Skip to main content

Obat Kedaluwarsa. Pengawasan Mandul, Kesehatan Jadi Taruhan

Tertangkapnya penjual obat kedaluwarsa oleh aparat Polda Metro Jaya, pekan lalu, menguak realitas mencemaskan di pasar barang yang dibeli warga demi kesehatan itu. Di lapangan ditemukan, pengawasan terhadap pemasaran obat-obatan ini bisa dikatakan mandul.

Sejumlah pemilik toko obat yang berlabel “apotek rakyat” mengaku jarang sekali ada pengawasan dari instansi berwenang. Apoteker pun hanya datang jika dibutuhknan. Ria (40), pemilik Apotek rakyat Anugrah di Pasar Kramatjati, Jakarta Timur, mengaku kios apoteknya tak pernah dikunjungi  pengawas dari mana pun. Bahkan, Ria balik bertanya profil pengawas obat tersebut. “Yang seperti apa, yah, pengawas itu? Saya sendiri enggak pernah lihat. Mungkin mereka datang tidak pakai seragam. Tapi juga tak pernah ada teguran atau pertanyaan, “ kata Ria, saat ditemui Jumat (9/9). Apoteker pun, kata Ria juga tak memeriksa satu per satu. Obat di kiosnya. Menurut dia, apoteker di kiosnya hanya datang jika dibutuhkan untuk tanda tangan pembelian obat dari pedagang besar farmasi.

“Apoteker di apotek rakyat memang tak harus ada di tempat karena kami tidak menyediakan obat racikan,” katanya. Hal itu sesuai dengna hasil penyelidikan Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Reskrimsus) Polda Metro Jaya. Seorang tersangka peredaran obat kedaluwarsa, yang memiliki apotek rakyat di Pasar Pramuka, Jakarta Timur, mengungkapkan bagaimana obat kedaluwarsa beredar luas di pasar itu karena tak ada sistem pengawasan.

”Tersangka mengaku membeli jasa apoteker untuk memenuhi syarat legal formal saja. Tetapi, kenyataannya sang apoteker cuma datang menagih uang setiap bulan Rp 800.000. Dia tak pernah mengontrol obat yang datang atau disimpan di apotek rakyat itu,” ungkap Kepala Unit II Industri dan Perdagangan Ditreskrimsus Komisaris Wahyu Nugroho, Jumat.

Selain tersangka tadi, polisi masih memeriksa dua pemilik apotek lain di Pasar Pramuka. Dua pemilik apotek itu mengungkapkan, praktik yang umum  terjadi di Pasar Pramuka adalah seorang apoteker bekerja untuk empat apotek rakyat. Setiap bulan, setiap apoteker dibayar Rp 250.000 oleh setiap apotek.

Dengan kata lain, seorang apoteker setiap bulan menerma Rp 1 juta. “Itu bayaran termurah. Sebagian, seperti disampaikan tersangka dan satu saksi, uang bulannya di atas Rp 250.000,” ucap Wahyu, Para apoteker ini, lanjut Wahyu, kadang ada yang datang tiga atau empat bulan sekali. “Bayarannya dirapel,” ucap Wahyu.

Di Pasar Pramuka, lanjut Direktur Reskrimsus Polda Meto Jaya Komiisaris Besar Fadil Imran, Ada 400 apotek rakyat. Dengan perhitungan terendah, maka, “Jadi setiap bulan, ada uang setoan untuk 100 apotek senilai Rp 100 juta” tegas Fadil.

Ketua Himpunan Pedagang Farmasi Pasar Pramuka Ridwan membenarkaan bahwa para apotek rakyat. Para apoteker tersebut hanya menyuruh orang mengambil honor sebesar Rp 250.000 per apotek per bulan. “Mereka (apoteker) tidak pernah hadir,” katanya.

Awalnnya setiap apoteker  menangani empat apotek rakyat, belakangan ini satu apoteker hanya menangani satu apotek rakyat.Terkait dengan hal ini, Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Timur Iwan Kurniawan mengatakan, pengawasan yang dilaksanakan Dinas Kesehatan sebatas administrasi terkait dengan izin apotek dan faktur pembelian obat. “Sementara pengawasan terkait obat itu kedaluwarsa atau tidak di BPOM,” katanya. (HLN/WIN/WAD/MDN)


Comments

Popular posts from this blog

Tata Ulang Pengawasan Obat

Obat dalam kehidupan manusia berperan penting, bahkan pada kondisi tertentu manusia menjadi bergantung pada obat. Orang yang berpenyakit hipertensi dan diabetik, misalnya sepanjang hidupnya harus mengonsumsi obat tertentu untuk mempertahankan kualitas hidupnya. Dengan dosis, indikasi dan waktu yang tepat, obat dapat menjadi farmakoterapi efektif untuk mencegah atau mengobati penyakit. Sebaliknya, obat bisa menjadi racun berbahaya apabila digunakan secara salah. Masalah-masalah yang terkait dengan obat ini dikenal dengan istilah drug related problems (DRP). Di Amerika Serikat, kasus DRP ini selain menelan korban berupa kematian, juga menimbulkan kerugian finansial yang sangat besar. Di Indonesia tidak ada penelitian yang melaporkan kasus DRP secara nasional. Namun,  dapat diprediksi kasus DRP jauh lebih tinggi dibandingkan dengan di Amerika Serikat. Penelitian di Rumah Sakit Sardjito,  misalnya, terjadi kasus  interaksi obat 59 persen untuk pasien rawat...

Menghentikan Obat Ilegal

Terungkapnya  produksi obat ilegal dan peredaran obat kedaluwarsa mengingatkan kembali pada kerentanan konsumen dalam isu kesehatan. Temuan pihak kepolisian serta Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) memperlihatkan produksi obat llegal dan penggantian tanggal kedaluwarsa obat telah menjadi bisnis ilegal berskala besar. Obat ilegal diproduksi  di lima pabrik di kawasan pergudangan Surya Balaraja, Tangerang. Sementara penggantian tanggal kedaluwarsa dilakukan di banyak toko obat di Pasar Kramat Jati dan Pasar Pramuka, Jakarta Timur, yang dikenal sebagai pusat penjualan obat. Toko-toko tersebut memiliki peralatan yang diduga digunakan mengganti tanggal kedaluwarsa obat. Sebelum kepolisian dan BPOM mengungkap adanya produksi dan distribusi obat ilegal dan obat kedaluwarsa, harian Kompas sudah melaporkan adanya bisnis ilegal tersebut pada 12 Agustus lalu. Apotek rakyat di pusat penjualan obat di atas menjadi sasaran para pemasar obat ilegal. Dari sana obat ilegal d...

Harga Obat Tak Terjangkau

Saya ibu seorang putra berusia 23 tahun. April 2013, anak saya didiagnosis hepatitis C. Sejak itu, oleh dokter ia disuntik Pegintron dan menelan obat Rebetol selama enam bulan (24 minggu). Penularan virus diduga terjadi melalui transfusi darah, saat anak saya sakit demam berdarah pada 1995, pada usia dua tahun. Tes HCV RNA pada akhir  masa enam bulan pertama dan enam bulan kedua setelah pengobatan menunjukkan hasil baik (virus tidak terdeteksi). Namun, hasil tes setelah enam bulan ketiga, 4 September 2015, menunjukkan virus muncul kembali. Saya sebagai ibu merasa sedih sekali. Terlebih mengetahui penyakit tersebut dapat berkembang menjadi sirosis dan kanker hati yang sangat berbahaya. Dokter menyarankan agar pengobatan diulang pada Desember 2015, tetapi memakai obat lain sejenis. Pegasys. Dokter juga menginformasikan, sudah ada obat hepatitis C baru bernama Sofosbuvir yang jauh lebih baik. Saya pun mencari informsi obat tersebut di internet. Obat itu ada, tetapi belum ...